Assalamu’alaikum wr. wb.
Mentalqin (membimbing atau menuntun) seseorang¬† mengucapkan shahadat hanya ada pada sa’at orang sakaratul maut dan tidak kepada orang yang telah wafat. Apakah memang demikian? Memang demikian, sebagaimana sabda Rasulullah Saw. artinya : “Talqinkan orang yang mau mati dengan kalimat laa ilaaha illallah.” ( HR. Muslim).
Terus, bagaimana dengan adanya yang mentalqinkan kepada orang yang telah wafat? Melihat kontek hadits diatas, maka mentalqinkan hanya pada sa’at sakaratul maut dan tidak kepada orang yang wafat, seperti yang kita lihat ada orang mentalqinkan setelah wafatnya seseorang (di kuburan). Wallahu a’lam.
Riwayat lain, bahwa  mentalqin hanya kepada orang sakaratul maut, dan tidak kepada yang wafat, dari Anas Ra. bahwa Rasulullah Saw. masuk ke rumah salah seorang Bani Najjar untuk menjenguknya. Lalu beliau mengatakan :
“Wahai paman (dari pihak ibu), katakanlah : “Laa ilaaha illallah,” lalu orang tersebut mengatakan, Aku paman (dari pihak ibu) ataukah paman (dari pihak bapak)?
Nabi menjawab : “Tidak, tetapi paman dari (pihak ibu).” Lalu Nabi mengatakan kepadanya : “Katakanlah laa ilaaha illallah.” Pria itu bertanya : “Apakah itu lebih baik untukku ?” Nabi menjawab : “Ya.” ( HR. Ahmad).
Semoga bermanfaat, referensi dari berbagai sumber, silakan koreksi dan share!
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Lembaga Surau.