Assalaamu’alaikum wr. wb.

Setiap pasutri pasti akan mengalami problematik dalam membangun mahligai rumah tangganya. Problem itu tidak bisa dihindarkan dan harus dihadapi. Banyak penyebab problem itu, diantara adalah pasutri yang “tidak siap menerima perbedaan”. Ini salah satu biang konflik dalam rumah tangga. Terus, bagaimanakah solusinya? Tidak ada jalan lain, yaitu pasutri harus “siap menerima perbedaan”.

Siap menerima perbedaan, berarti masing-masing pasangan bisa menerima kekurangan, bukankah tidak ada manusia yang sempurna? Bukankah Rasulullah memberitakan, agar kita menerima kekurangan pasangan kita, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, artinya :

“Janganlah seorang suami mukminin membenci isterinya yang mukminah, karena jika seandainya suami tersebut tidak menyukai satu akhlak pada isterinya niscaya akan ridho dengan akhlaknya lain.” (HR. Muslim).

Kenyataan, orang akan mudah menerima persamaan dan sulit menerima perbedaan. Mari kita belajar kepada alam ! Yaitu, problem ibarat bumbu yang berbeda-beda (cabe, garam, kunyit, lengkuas dan sebagainya) dalam kuali, apabila diracik dengan baik, maka masakan itu akan enak. Demikian problem perbedaan, apabila diracik dengan baik, maka menjadi nikmat dan indah. Benarkan! Tentu, bagi pasutri yang beriman.

Perbedaan itu, juga ibarat pelangi indah (ada merah, kuning, biru, lembayung dan lainnya) , warna itu bersatu padu secara harmoni. Begitu jugalah, perbedaan itu bersatu padu menjadi pelangi dalam kehidupan pasutri.

Mudah-mudahan bermanfaat, dari berbagai sumber dan silakan share!

Wassalam,
Tarbiyah Islamiyah,
Notaris Islamiyah Indonesia.